Thursday, November 30, 2017

MENGUKIR NADA DARI BESI


Karya Raya Publishing dengan kerjasama Faithcraft Productions akan melancarkan sebuah buku terbaru dari mereka berjudul "Mengukir Nada Dari Besi" tulisan Rammy Azmi, sebuah manuskip yang membincangkan tentang muzik berat, dakwah, rakaman peristiwa, pendapat dan pengalaman beliau yang dibawa dalam 23 bab.

Bakal dilancarkan di Kuala Lumpur Zine Festival, Sabtu 9hb Disember 2017 ini di Petaling Jaya dengan harga RM20. 

Hubungi mereka untuk pesanan:
Karya Raya 
+6017-9639316
nizangmosh@gmail.com

Faithcraft Productions 
+0192281979
faithcraft.productions@yahoo.com

Friday, September 15, 2017

YOK KOESWOYO: JIWAKU, JIWAMU, JIWA NUSANTARA



YOK KOESWOYO: JIWAKU, JIWAMU, JIWA NUSANTARA 
 (termasuk cakera padat audio)
1 unit sahaja!
Penulis: Yok Koswoyo
Penerbit: Grasindo
Asal: Indonesia
Bahasa: Bahasa Indonesia
Tarikh Pelancaran: 2012
Harga: RM18
Hubungi: Ahmad Ra1m1
Tel: 019-2281979

Biodata: Koesroyo Koeswoyo (lahir di Tuban, Jawa Timur, 3 September 1943; umur 74 tahun) atau Yok merupakan salah satu anggota grup band Koes Plus dan Koes Bersaudara. Ia memainkan bas gitar sekaligus pendukung vokal.Dari silsilah keluarga, mereka termasuk generasi ke-7 keturunan (trah) Sunan Muria di Tuban. Ibu mereka adalah keponakan dari Bupati Tuban pada zaman penjajahan Belanda saat itu.

Masa kecil Yok dilalui di kota Tuban, Jawa Timur bersama saudara-saudaranya. Tahun 1952 keluarga Koeswoyo pindah ke Jakartamengikuti mutasi Sang ayah berkarier hingga pensiun sebagai pegawai negeri di Kementrian Dalam Negeri. Di Jakarta mereka sekeluarga menempati rumah di jalan Mendawai III, No. 14, Blok C, Kebayoran baru, Jakarta Selatan.

Pada masa kecil Yok cukup nakal, meski tidak senakal abangnya Nomo yang pernah dipukul hingga pingsan oleh ayah mereka. Kenakalan Yok yang paling besar adalah pernah memukul kepala Nomo dengan kayu kaso sewaktu bertengkar dengan abangnya itu. Pendidikan terakhir Yok adalah sekolah Menengah di SMA Triguna Jakarta. Ia tak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi karena memilih dunia musik sebagai hidupnya mengikuti saudara-saudaranya.

Yok Koeswoyo mulai aktif bermusik sejak awal dibentuknya grup musik bersama saudara kandungnya keluarga Koeswoyo yakni :(Jon Koeswoyo pada Bass, Tonny Koeswoyo pada gitar, Nomo Koeswoyo pada drum, Yon Koeswoyo pada vokal, dan Yok Koeswoyo pada vokal) dan seorang dari luar keluarga Koeswoyo yang bernama Jan Mintaraga sebagai gitaris awalnya. Pada mulanya mereka menamakan grup ini Kus Brothers pada tahun 1958. Sebetulnya inspirasi duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twins, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini meniru pola Everly Brothers di Amerika, karena menggunakan 2 penyanyi kakak beradik yakni Yon dan Yok. Mereka merekam album pertama pada tahun 1962. Setelah Jan Mintaraga mengundurkan diri, grup ini berganti nama menjadi Kus Bersaudara pada tahun 1963.

Beberapa waktu kemudian kakak tertua mereka Jon Koeswoyo pun mengundurkan diri, sehingga menyisakan 4 personel kakak beradik yang dipimpin oleh Tonny Koeswoyo. Grup ini kemudian kembali mengganti namanya menjadi Koes Bersaudara. Dalam formasi yang baru ini Yok didaulat memegang alat musik bass menggantikan peran Jon, disamping sebagai backing vocal mendampingi suara Yon. Grup ini meraih kesuksesan dalam beberapa album rekaman berikutnya selama beberapa tahun sebelum dipenjarakan oleh rezim Orde Lama Soekarno di Penjara Glodok pada tanggal 29 Juni 1965. Mereka dianggap memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok (kebarat-baratan) yang terlarang masa itu. Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 29 September 1965 (tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI). Selepas itu karier bermusik mereka kembali berjalan.

Dalam pengakuan Yok Koeswoyo di depan publik acara Kick Andy yang ditayangkan Metro TV pada Kamis 11 Desember 2008), terungkap sebuah fakta yang selama ini dirahasiakan. Bahwa sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagai bagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence) di Malaysia. Saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. “Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Kami direkrut oleh ia-ia, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan Laut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam keluar dan hijrah ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intelligence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 September, meletus G30S,” cerita Yok. - Sumber Wikipedia

CERITA DI BALIK NODA




CERITA DI BALIK NODA
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
1 unit sahaja!
Penulis: Fira Basuki
Asal: Indonesia
Bahasa: Bahasa Indonesia
Tarikh Pelancaran: Jan 2013
Harga: RM18
Hubungi: Ahmad Ra1m1
Tel: 019-2281979

Ulasan Lensa Indonesia: Fira Basuki, penulis Indonesia yang sudah menerbitkan puluhan judul buku best sellers, kembali menghadirkan karya terbarunya. Kali ini dia meluncurkan buku yang berjudul ‘Cerita di Balik Noda’. Buku ini berisikan cerita-cerita inspirasi jiwa Fira yang khusus didedikasikan untuk seluruh ibu dan anak Indonesia.

Menggandeng produsen sabun cuci Rinso, ibu dari dua anak perempuan ini menilai dari setiap noda terdapat cerita bagaimana anak-anak bisa melakukan sesuatu yang positif, luar biasa dan menakjubkan.

“Kisah-kisah dalam buku ini seolah menyadarkan kita betapa anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering jika kita mau melihatnya dengan cinta. Kenakalan mereka adalah kilau emas, dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwa,” ujar Fira Basuki kepada LICOM disela-sela peluncuran buku terbarunya ‘Cinta di Balik Noda’ di Cafe Kembang Goela, Jakarta, Kamis (31/1/2013).

Cerita di Balik Noda berisikan 42 cerita inspirasi jiwa yang Fira tulis, 38 diantaranya terilhami oleh cerita ibu Indonesia dan 4 kisah dari pengalaman pribadinya.

“Kumpulan cerita dalam buku ini awalnya ditulis oleh para peserta lomba menulis bertema ‘Cerita di Balik Noda’ yang diprakarsai oleh Rinso Indonesia melalui jejaring sosial fesbuk. Mayoritas cerita yang dikirimkan berasal dari para ibu seperti saya. Mereka bercerita mengenai anak-anaknya.Yang menarik, banyak ibu yang justru belajar dari sikap anak-anaknya,” jelas Wanita Surabaya, 7 Juni 1972 ini.

Fira percaya buku Cerita di Balik Noda ini dapat menginspirasi pembacanya. Tak hanya para ibu, tetapi juga menginspirasi calon ibu, calon ayah, calon istri, bahkan calon suami, karena itu selain mengangkat kisah mengenai ibu dan anak, ia sisipkan juga berbagai kisah hidup yang bersinggungan dengan mengambil hikmah dari “noda”.

“Cerita mengenai ibu dan anak membuat saya tertantang untuk menyumbangkan cerita tersendiri. Baik itu dari hubungan pekerja dan bos, kakak beradik, suami istri, dan lainnya. Saya pasang kuping lebar-lebar untuk menjaring cerita dan kemudian mengembangkannya menjadi kisah baru. Hasilnya, empat tulisan lahir dari tangan saya, yaitu Bos Galak, Sarung Ayah, Pohon Kenangan, dan Foto,” ungkapnya.

Fira pun berharap, buku ini dapat memiliki peran dalam hal membantu orangtua khususnya para ibu dalam pengasuhan dan pembentukan landasan moral anak-anak serta merangsang terjadinya diskusi terbuka antara orangtua dan anak mengenai masalah dan pengalaman yang dialami anak-anak.

“Semoga buku ini bisa menjadi alternatif pilihan bagi para orangtua, khususnya para ibu, dalam mengasuh anaknya,” ungkapnya.

Setelah era NH Dhini, Fira Basuki merupakan salah satu penulis Indonesia yang sudah menerbitkan puluhan judul buku dan novel best sellers. Namanya dikenal publik sejak kemunculan novel-novel perdananya, trilogi: Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap di awal tahun 2000.

Dilanjutkan beberapa buku-buku hitsnya antara lain Biru, Rojak, Brownies, Cinta Dalam Sepotong Roti, kumpulan cerpen Alamak!, kumpulan cerpen Perempuan Hujan, dwilogi Astral Astria-Paris Pandora, Kapitan Pedang Panjang, serial Miss B, serial anak-anak Mandy & Mami, serta biografi Wimar Witoelar: “Hell, Yeah!” Yang terbaru adalah 140 Karakter, kumpulan tweets dan cerita lain.

Sejak kecil Fira memang berbakat dan gemar menulis. Selalu memenangkan berbagai lomba menulis tingkat nasional. Bahkan cita-citanya pun ingin menjadi penulis dan wartawan. Lulus sarjana journalism dari Pittsburg State University dan dilanjutkan jenjang master public relations-Wichita State University, Amerika Serikat.

Fira memiliki pengalaman yang luas di berbagai media massa, baik lokal mapun internasional. Kini ia meraih cita-cita masa kecilnya, bukan saja ia sukses sebagai penulis Indonesia yang bahkan pernah mewakili Indonesia di ajang Singapore Writer’s Festival (Oktober 2011) tetapi juga menjadi Pemimpin Redaksi majalah Cosmopolitan. Ia juga sering diminta menjadi model dan juru bicara iklan, pembicara, juri, seminar, dan berbagi ilmu

KASET "A SOUND FROM THE NORTHERN SKY"


"A SOUND FROM THE NORTHERN SKY: Vol. 1
Kaset kompilasi dari Raung Records yang menampilkan keseluruhan pemuzik bawah tanah dari Perlis. Mempersembahkan: Savage, Moi Last Von, Merenggah, Villains a. City, Catagaxian dan
Krosot.

Harga: RM15 (termasuk pos laju)
Whattapp: 019-2281979
Email: faithcraftproductions@yahoo.com
*KUANTITI TERHAD

Friday, July 7, 2017

JELAJAH PUISI: MERENUNG MATAHARI MAC









Seputar di Rumah AOR, Kedah bersama mereka-mereka yang turut menjayakan Perlis Zine Fest 2017.